Saturday, January 19, 2013

Strategi Pembelajaran Aktif (Active learning)


Strategi Pembelajaran Aktif (Active learning)

Pembelajaran aktif dalam wikipedia menjelaskan bahwa “Active learning is an umbrella term that refers to several models of instruction that focus the responsibility of learning on learners”, yang berarti bahwa pembelajaran aktif berlindung pada syarat-syarat atau tingkatan-tingkatan yang mengarah kepada contoh-contoh pengajaran yang berpusat kepada tanggung jawab siswa dalam belajar.[1]
Paulson dan Faust mengungkapkan bahwa belajar aktif secara sederhana merupakan segala sesuatu yang dilakukan peserta didik selain hanya menjadi pendengar pasif ceramah dari guru.[2]
Pembelajaran aktif (active learning) adalah proses belajar dimana siswa mendapat kesempatan untuk lebih banyak melakukan aktivitas belajar, berupa hubungan interaktif dengan materi pelajaran sehingga terdorong untuk menyimpulkan pemahaman dari pada hanya sekedar menerima pelajaran yang diberikan.
Menurut Bonwell (1995), pembelajaran aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:[3]
1.      Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan ketrampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
2.      Siswa tidak hanya mendengarkan pelajaran secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.
3.      Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi pelajaran.
4.      Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi.
5.      Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.
Pembelajaran aktif erat kaitannya dengan peranan guru di dalam proses belajar mengajar. Pernan guru dalam proses belajar mengajar diantaranya adalah pertama, guru sebagai inforamator, yaitu sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber akademik maupun umum. Kedua, sebagai organisator, yaitu komponen-komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa sehingga dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri siswa. Ketiga, guru sebagai motivator, yaitu guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa. Keempat, guru sebagai pengarah atau director, yaitu guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajara siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Kelima, guru sebagai fasilitator yaitu memberikan fasilitas atau kemudahna dalam proses belajar mengajar. Keenam, guru sebagai mediator, yaitu penengah dalam kegiatan belejar siswa.[4] 
Menurut Junaedi beberapa alasan perlunya menerapkan pembelajran yang aktif adalah sebagai berikut:[5]
1.      Riset kognitif menunjukkan bahwa menggunakan teknik ceramah saja bukanlah strategi pembelajaran yang efektif. Jika peserta didik memiliki banyak kesempatan untuk membaca, mendengar, melihat, mempraktikan, dan mendiskusikan materi pembelajaran, maka mereka akan lebih banyak mengingatnya.
2.      Kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran aktif dapat mencegah terjadinya sesi yang monoton sehingga peserta didik lebih banyak memberikan perhatian dan lebih menikmati sesi pembelajaran.
3.      Sesi pembelajaran aktif dapat emngintegrasikan bahan-bahan ataupun pengetahuan baik yang lama maupun yang baru.
4.      Dalam pembelajaran aktif peserta didik diibaratkan dengan keterampilan berfikir tingkat tinggi. Hal ini akan menyebabkan keterampilan berfikir tingkat tinggi peserta didik semakin terasah.
5.      Kegiatan-kegiatan mandiri memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melibatkan gaya belajarnya sendiri dalam berbagai kegiatan.
6.      Peserta didik akan lebih mampu untuk mengulang langkah-langkah penting jika kegiatan tersebut dilakukan sendiri.
7.      Pembelajaran aktif memerlukan tanggung jawab individual dan sekaligus tingkat kerjassama yang tinggi. Hal ini dapat meningkatklan kemandirian dan juga keterampilan sosial peserta didik.
8.      Pembelajaran aktif mendorong interaksi peserta didik dengan peserta didik lain dan juga dengan guru. Hal ini dapat meningkatkan kemampuan komunikasi peserta didik.
9.      Keterlibatan peserta didik yang tinggi dalam pembelajaran menyebabkan minat dan motivasi belajar peserta didik meningkat.
Strategi pembelajaran aktif merupakan strategi-strategi konkret yang memungkinkan untuk diterapkan dalam pembelajaran. Menurut Mel Siberman terdapat proses belajar yang terbagi menjadi tiga bagian dalam pembelajaran aktif, diantaranya:[6]
1.      Proses awal atau aktifitas pembuka sebagai pemecahan kebekuan untuk berbagai macam kelas. Diantaranya: team building, on-the-spot,immediate learning involvement.
2.      Proses inti pembelajaran yang dapat digunakan pada saat di tengah-tengah pelajaran. Diantaranya: full-class learning, class discussion, question prompting, collaborative learning, peer teaching, independent learning, affective learning, and skill development.
3.      Proses akhir atau penutup untuk menyimpulkan dan menerapkan bagaimana peserta didik menerapkannnya di masa yang akan datang. Diantaranya: review, self-assesment, future planing, expression of final sentiments.
Berdasarkan proses-proses tersebut, terdapat teknik pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses inti dengan belajar berkolaboraasi (collaborative learning) yang memiliki beberapa teknik belajar diantaranya informationi search, the study group, card sort, learning tournament, the power of two, dan quiz team.


[1] Wikipedia, Active learning, http://en.wikipedia.org/wiki/Active_learning.
[2][2] Junaedi, dkk., strategi pembelajaran paket 12, (Bandung: UPI, 2006), h. 9
[3] T.M.A. Ari Smadhi, Pembeljaran Aktif  (Active Learning), (Teaching Improvement Workshop Enginering Education Development project, 2007), h. 47. Dari http://eng.unri.ac.id/download/teaching imprevement/BK2_Teach&Learn_I/ACtive%20Learnng_5.PDF
[4] Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 144-146.
[5] Junaedi, dkk., strategi ..., h. 14.
[6] Mel siberman, Active learning: 101 strategi pembelajaran aktif, terjemahan dari Active learning 101 strategies to teach any subject oleh sarjuli dkk, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2002), h. 25-26.

1 comment: